<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hezti's Weblog</title>
	<atom:link href="http://hezti.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hezti.wordpress.com</link>
	<description>keragaman budaya: untuk hidup yang penuh warna.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 Apr 2009 06:47:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hezti.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hezti's Weblog</title>
		<link>http://hezti.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hezti.wordpress.com/osd.xml" title="Hezti&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hezti.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>tentang korea</title>
		<link>http://hezti.wordpress.com/2009/04/17/tentang-korea/</link>
		<comments>http://hezti.wordpress.com/2009/04/17/tentang-korea/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 06:25:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hezti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hezti.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Laut dan Kupu-kupu (Sebuah esai atas kumpulan cerpen Korea) Judul Buku : Laut dan Kupu-kupu (Kumpulan cerpen Korea) Terjemahan : Koh Young Hun dan Tommy Christomy Editor : Hamsad Rangkuti Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama (2007) Membaca cerpen Korea adalah hal baru bagi saya. Sebagai penikmat pemula, awalnya tidak mudah bagi saya untuk langsung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hezti.wordpress.com&amp;blog=3748109&amp;post=5&amp;subd=hezti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span lang="EN-AU">Laut dan Kupu-kupu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span lang="EN-AU">(Sebuah esai atas kumpulan cerpen Korea)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="EN-AU"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-AU">Judul Buku<span> </span>: Laut dan Kupu-kupu (Kumpulan cerpen Korea)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-AU">Terjemahan<span> </span>: Koh Young Hun dan Tommy Christomy</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-AU">Editor<span> </span>: Hamsad Rangkuti</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-AU">Penerbit<span> </span>: PT Gramedia Pustaka Utama (2007)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="EN-AU"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="EN-AU"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Membaca cerpen Korea adalah hal baru bagi saya. Sebagai penikmat pemula, awalnya tidak mudah bagi saya untuk langsung dapat menikmati alur cerita dari kumpulan cerpen Korea ini. Terlebih lagi kadangkala saya sulit menikmati beberapa kalimat terjemahan yang ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Sebuah pengakuan yang dapat saya buat misalnya seperti ini: bahwa memulai membaca cerpen yang pertama dengan judul <em>Dua Generasi Teraniaya </em>telah membuat kepala saya agak pening. Meski demikian, saya tetap terus mencoba membiasakan diri dengan cerita yang ada, serta<span> </span>sedikit “memaksa “ untuk terus membaca cerita-cerita selanjutnya. Hingga dalam perjalanannya, membaca kumpulan cerpen Korea <em>Laut dan Kupu-kupu, </em>telah<em> </em>membuat saya memiliki<em> </em>hubungan<em> </em>batin dengan sebuah kebudayaan yang selama ini belum pernah saya pelajari secara mendalam: Kebudayaan Korea.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Di tengah perjuangan saya untuk mencerna cerita-cerita yang ada dalam sebuah buku yang berjudul <em>Laut dan Kupu-kupu</em> ini, terdapat<span> </span>beberapa hal kecil yang menggelitik saya untuk bisa bertahan membaca kumpulan cerita yang ada. Meski tampak sepele, hal -hal tersebut telah nyata menyita perhatian saya dan membangkitkan ketertarikan saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Apakah hal itu? Jawabnya adalah: makanan! Ya, nama-nama makanan Korea yang notabene belum pernah saya cicipi itu telah nyata terserak di tiap-tiap cerita dalam buku ini (misalnya: <em>sasimi</em>, <em>ikan godengo</em>, <em>odeng</em>, <em>sujebi</em>, <em>soju</em>, <em>jajangmyeon</em>, <em>kimchi</em>, <em>kimchi</em> <em>chige</em>, <em>ikan</em> <em>bugeo</em>). Bahkan, berbagai jenis nama makanan Korea yang terserak dalam cerita-cerita yang ada telah membuat saya memiliki daya tahan<span> </span>dalam pergumulan saya menghayati jalinan makna dalam cerita. Nama-nama makanan yang terasa agak asing di kuping, dan tampak unik untuk dibaca, telah menjadi pemantik bagi nyala api hasrat saya untuk mengenal kebudayaan Korea secara lebih dekat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Munculnya keinginan untuk melihat lebih dekat pastilah diawali dengan terbukanya sebuah jendela. Atas hal itu, kumpulan cerpen ini telah memainkan peran sebagai jendela yang membawa saya pada lebarnya ranah keindahan dari suatu budaya: Korea.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Tentulah dalam cerita pendek tidak terdapat gambar-gambar menu makanan yang disajikan. Akan tetapi karena hati saya terus terusik dengan nama-nama makanan yang terserak di tiap cerita, maka terbitlah niat saya untuk melihat nama-nama makanan tersebut di situs internet. Situs-situs itu telah menghantarkan saya pada suatu kenikmatan mengecap makanan Korea. Apalagi setelah saya melihat gambar-gambar makanan yang ada. Wow! Saya pun berubah pandangan: tak jadi melihat makanan Korea sebagai perkara sepele, tetapi lebih merupakan suatu ramuan unik yang menarik dan menggoda selera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Kuliner Korea adalah makanan tradisional yang didasarkan pada teknik dan cara memasak orang Korea. Mulai dari kuliner istana yang komplek sampai makanan khusus dari daerah-daerah serta jenis makanan fusion (campuran) yang modern, bahan-bahan yang digunakan serta cara penyajiannya sangat berbeda. Kuliner Korea berbahan dasar sebagian besar pada beras, mie, tahu, sayuran dan daging (<a href="http://www.wikipedia.com/">www.wikipedia.com</a>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Salah satu nama makanan yang sering disebut-sebut dalam cerita (contoh dalam cerpen yang berjudul <em>Dinihari ke Garis Depan</em> karya Bang Hyun Suk) adalah <em>kimchi</em>. Dalam sebuah percakapan antara Min Young dan Mi Jeong, mereka juga mempercakapkan<span> </span>biaya untuk membuat kimchi. “Bagaimana? Bukan hanya biaya untuk perbaikan saja. Iuran Soon Ok dan lain-lain. Tiga puluh orang kali 70 ribu won, jadi semuanya dua juta tiga ratus ribu won, ditambah lagi biaya bikin kimchi, dan uang sayur pun tinggal untuk 2 hari saja” (Hyun Suk, halaman: 116).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Kimchi adalah makanan fermentasi yang berasal dari sayuran, utamanya sawi, lobak dan ketimun. Setidaknya ada satu jenis Kimchi yang disajikan bersama <em>banchan </em>pada sepanjang tahunnya. Kimchi juga adalah bahan dasar utama dalam berbagai resep masakan Korea. Makanan Korea biasanya dibumbui dengan minyak wijen, <em>doenjang</em>, kecap, garam, bawang putih, jahe, dan saus cabai (<em>gochujang</em>). Masyarakat Korea adalah pengkonsumsi bawang putih terbesar di dunia di atas warga Tiongkok, Thailand, Jepang, serta negara-negara mediterania seperti Spanyol, Italia dan Yunani. Makanan Korea berbeda secara musiman. Selama musim dingin, biasanya makanan tradisional yang dikonsumsi adalah kimchi dan berbagai sayuran yang diasinkan di dalam gentong besar yang disimpan di bawah tanah di luar rumah. Persiapan pembuatan masakan Korea biasanya sangat membutuhkan kerjasama. Makanan tradisional dari istana, yang dahulu hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan Dinasti Joseon, memerlukan waktu berjam-jam untuk pembuatannya. Makanan istana harus memiliki harmonisasi yang memperlihatkan kontras dari karakter panas dan dingin, pedas dan tawar, keras dan lembut, solid dan cair, serta keseimbangan warna (<a href="http://www.wikipedia.com/">www.wikipedia.com</a>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Tak satu pun buku resep yang dapat menggantikan pentingnya latihan dan uji coba memasak bertahun-tahun. Dulunya disebut-sebut semua wanita Korea yang menikah selalu belajar bagaimana membuat <em><span style="font-family:&quot;font-style:normal;">kimchi</span></em> di dapur yang sama dengan mertua. Selera yang berbeda dari setiap keluarga diteruskan dari generasi ke generasi. Sekarang, kabarnya hanya segelintir wanita Korea yang memiliki waktu dan tempat membuat <em><span style="font-family:&quot;font-style:normal;">kimchi</span></em> dengan cara tradisional (<a href="http://students.ukdw.ac.id/~22033301/makanan.html">http://students.ukdw.ac.id/~22033301/makanan.html</a>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Mungkin tidak pada porsinya jika saya membahas terlalu lebar tentang makanan Korea lewat tulisan ini. Akan tetapi sekelumit sajian ulasan tentang makanan tersebut sengaja saya hadirkan untuk memberikan sebuah bukti bahwa tiap pembaca tentunya memiliki kesan tersendiri atas suatu cerita. Tidak kebetulan, kemampuan para penulis dalam menebarkan nama-nama makanan di sela-sela jalinan cerita telah memikat hati saya. Dalam hal ini saya melihat bahwa para penulis cerpen Korea dalam buku <em>Laut dan Kupu-kupu </em>telah menunjukkan kemampuannya mengemas hal remeh-temeh perkara kehidupan sehari-hari yang tampaknya sepele tapi toh ternyata dapat membuka wawasan pembaca pada kelimpahan suatu budaya: Korea.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="EN-AU"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="EN-AU">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Dalam sebuah artikel yang berjudul <em>Mengenal Korea melalui 12 Cerpen </em>(<a href="http://johnherf.wordpress.com/2008/01/18/mengenal-korea-melalui-12-cerpen/">http://johnherf.wordpress.com/2008/01/18/mengenal-korea-melalui-12-cerpen/</a>), di sana disebutkan salah sebuah pendapat Profesor Doktor Koh Young Hun bahwa dalam kumpulan cerpen <em>Laut dan Kupu-kupu </em>ada perkembangan spiritual yang menarik. Semua berkecamuk. Hal itulah yang membedakan dengan karya sastra lain. Lebih lanjut dalam artikel tersebut juga mengungkapkan pendapat Tommy Christomy. Tommy mengatakan bahwa karya sastra Korea, penulisnya lebih jujur. Orang tua boleh didebat, misalnya. Ia pun menuturkan bahwa oase kejujuran ini terjadi di tengah-tengah masyarakat Korea masuk dalam negara ketujuh besar sebagai negara yang patut diperhitungkan. “Kalau marah harus marah, terekspresi dengan jelas.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Saya sendiri menemukan beberapa hal penting yang dapat saya catat melalui pembacaan kumpulan cerpen <em>Laut dan Kupu-kupu</em>. Beberapa hal tersebut dapat saya golongkan pada ranah sejarah, antropologi, geografi, psikologi, sosiologi dan kuliner.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="EN-AU">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="EN-AU"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Pada saat saya membaca Cerpen kedua yang berjudul <em>Seoul Musim Dingin 1964</em>, saya merasa penasaran dengan pilihan tahun yang terdapat dalam judul itu. Maksud saya, angka tahun tersebut telah memunculkan sebuah tanda tanya dalam benak saya: ada apakah di tahun tersebut dan catatan sejarah apa yang tertoreh kala itu di Korea?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Tanda tanya-tanda tanya yang muncul dalam tiap pembacaan cerita tentunya merangsang rasa ingin tahu saya untuk membuka data lebih lanjut tentang Korea. Karena keterbatasan data sejarah yang saya temukan, saya belum dapat melihat secara lebih detail mengenai Korea pada periode tahun 1960-an. Data sejarah yang saya temukan adalah mulai dari Korea masa Pra Sejarah sampai dengan Pemecahan Korea. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Walau demikian, ketika saya mencermati kembali pada bagian daftar isi, di bagian ini sebenarnya telah diberikan panduan secara umum untuk pembaca dapat mengikuti alur historis Korea dan hubungannya dengan warna cerpen yang tersaji. Hal tersebut sungguh membantu para pembaca cerpen Korea pemula seperti saya untuk dapat mengikuti alur cerita berdasarkan latar belakang sejarahnya. Secara lebih detail, dalam daftar isi telah ditunjukkan beberapa urutan sejarah dan judul cerpen yang ada dalam setting periode sejarah tertentu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Garis besar pengetahuan sejarah Korea yang dapat saya ketahui melalui kumpulan cerpen Korea <em>Laut dan Kupu-kupu </em>adalah sejarah mengenai Perang Korea (1950-an), munculnya generasi baru dengan Revolusi 4.19 (1960-an), zaman industrialisasi (1970-an), Gerakan Rakyat Nasionalis (1980-an), dekonstruksi wacana besar: curahan keinginan (1990-an), dan masa imajinasi baru (2000-an) (Daftar isi, halaman: vii-vi). Demikianlah peristiwa sejarah di tiap periode telah mewarnai para penulis cerpen dalam menyusun cerita-cerita mereka. Mereka sanggup megartikulasikan peristiwa kecil sehari-hari dalam wadah sejarah bangsa yang besar. Dari hal ini pun saya dapat memetik pelajaran tersendiri agar tidak melupakan sejarah bangsa saya sendiri. Tentunya, hal tersebut saya dapati dengan bercermin dari para penulis cerpen tersebut yang tidak hilang ingatan akan sejarah bangsa mereka: Korea.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Dalam catatan sejarah Indonesia dan Korea, pada tahun 1964 terdapat sebuah peristiwa yang telah dicatat dalam sejarah dua bangsa: Indonesia dan Korea. Pada tahun tersebut Presiden pertama Indonesia, Soekarno melakukan kunjungan ke negara komunis di bagian Utara Korea. Hubungan antara Indonesia dan Korut &#8211; keduanya negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) -<span> </span>terbina sejak kunjungan almarhum presiden Soekarno ke Pyongyang tahun 1964. Sejak itulah Korut menggunakan kedutaan besarnya di Jakarta sebagai basis bagi kegiatan diplomasi mereka untuk Asia Tenggara (<span class="Quotation">www.dephan.go.id/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=3197 &#8211; 21k &#8211; )</span>.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="EN-AU">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Secara antropologis, lewat kumpulan cerpen <em>Laut dan Kupu-kupu </em>dapat kita lihat mengenai beberapa nilai ataupun gagasan yang dihayati oleh masyarakat Korea. Seperti dalam cerpen <em>Dua Generasi Teraniaya </em>karya Ha Geun Chan. Di situ terlihat bagaimana cara orang tua menyayangi anaknya. Mando yang tangannya buntung sebelah, dipaksa untuk menerima dengan ikhlas kondisi anaknya yang pada akhirnya memiliki kaki yang buntung juga akibat perang. Di akhir cerita tersebut terdapat suatu penutup yang mengesankan. “Walaupun Mando agak mabuk, dia menggendong dan menyeberangkan anaknya dengan sigap dan hati-hati ke tepian. Bukit Yongmori yang menjulang di depannya menatap pemandangan ini diam-diam” (Geun Chan, halaman: 16).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Dalam budaya Korea, keturunan atau anak dianggap sebagai sebuah anugerah yang amat besar dari Tuhan. Oleh karena itu, setiap keluarga disarankan untuk paling tidak memiliki seorang keturunan. Oleh karena budaya yang amat menghormati anugerah Tuhan tersebut, aborsi yang bersifat sengaja akan diberikan hukuman yang amat berat secara adat, yaitu hukuman mati kepada sang Ibu dan orang lain yang mungkin terlibat di dalamnya, seperti suaminya (jika suaminya memaksa), dokter (jika dokter yang memberikan sarana untuk aborsi), dan lain-lain. Akan tetapi secara hukum tidak akan diadakan hukuman mati. Hukuman mati biasanya hanya dilaksanakan di daerah pedalaman Korea dimana adat masih berpengaruh sangat kuat (<a href="http://www.google.com/">www.angelfire.com/gundam/sartohalim/sosial_</a><a href="http://www.google.com/">budaya</a>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Nuansa kebudayaan Korea yang terwujud secara materi juga nampak dalam cerita pendek yang ada. Seperti dalam cerita <em>Sungai Dalam Mengalir Jauh </em>karya Kim Yeong Hyeon. Pada cerita ini<span> </span>dikisahkan suatu acara penguburan. Di dalamnya tersebutlah anak-anak muda yang memakai <em>durumagi</em>, pakaian khas Korea untuk laki-laki. Beberapa istilah lain yang dapat memperkaya khasanah pengetahuan kita tentang budaya material Korea lewat cerpen ini adalah disebutnya istilah <em>byong pung </em>untuk dipergunakan saat selamatan tahunan memperingati nenek moyang. Juga <em>babsang, </em>sejenis meja makan kecil lengkap dengan menunya, serta <em>yogang, </em>semacam<em> </em>pispot tradisional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Masih dalam cerpen yang sama: <em>Sungai Dalam Mengalir Jauh</em>, saya menangkap suatu gagasan masyarakat Korea tentang kematian. Mereka mengenal sebuah pemahaman bahwa ada orang-orang yang meninggal seusai menghayati kehidupan yang cukup lama, hal tersebut dikenal dengan istilah <em>hosang</em>. Bahkan, saya menangkap juga sebuah pemikiran bahwa orang yang sudah meninggal dianggap tidak lagi memiliki hubungan secara spiritual dengan keluarga yang ditinggalkannya. Hal ini berbeda dengan kepercayaan masyarakat tertentu yang memiliki kepercayaan bahwa roh orang yang meninggal masih menempati rumah mereka. Sebuah kalimat di bagian penutup dari cerpen tersebut sangatlah menarik. “Ayah, bawalah semua yang engkau punya. Jangan meninggalkan satu pun yang Ayah miliki. Jangan kembali lagi selama-lamanya. Pergilah dengan membawa dosa Ayah dan penyakit paru-paru Kak Man Gi seperti burung mengepakkan sayapnya” (Yeong Hyeon, halaman: 197).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Hal tersebut menjadi menarik bila kita bandingkan dengan salah suatu kepercayaan pada salah satu suku bangsa di Indonesia seperti suku bangsa Batak. Pada masyarakat Batak, dikenal suatu istilah <em>begu ganjang</em>. Begu ganjang atau disebut hantu besar bagi orang Batak sangat ditakuti. Begu ganjang ini menurut legenda, sebuah ilmu setan yang dulunya dimiliki orang-orang kampung di tanah Tapanuli, Sumatera Utara (Sumut). Dulu, begu ganjang dimiliki warga untuk menjaga ladang pertanian mereka yang letaknya jauh dari pemukiman penduduk (<a href="http://www.detiknews.com/">www.detiknews.com</a>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="EN-AU"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="EN-AU">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Melalui cerpen-cerpen yang ada dalam buku <em>Laut dan Kupu-kupu, </em>saya merasakan bahwa secara psikologis masyarakat Korea adalah masyarakat dengan perasaan yang dalam. Hal itu sangat terasa dalam tiap-tiap cerpen yang ada. Konflik-konflik yang muncul dalam tiap cerita sungguh sarat dengan pilinan makna. Para tokoh yang dihadirkan dalam tiap cerita memiliki kelugasan dalam mengungkapkan perasaan mereka dan juga menyembunyikannya demi pertimbangan tertentu. Kekayaan nuansa rasa itu membuat saya dapat melakukan olah rasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Dalam cerita <em>Seoul Musim Dingin 1964 </em>tampak sebuah gambaran kesetiaan seorang suami terhadap istrinya. Ia memiliki cara tersendiri dalam menghayati kesetiaannya itu. Kemampuan sang penulis dalam menghadirkan pergumulan-pergumulan pribadi sang suami yang kehilangan istrinya amatlah menarik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Kebudayaan garis keluarga di Korea adalah berdasarkan atas sistem Patrilineal. Pria memegang peranan penting dalam kesejahteraan keluarga dan diwajibkan untuk bekerja. Wanita diperbolehkan untuk bekerja hanya kalau diperbolehkan oleh suami atau jika hasil kerja suaminya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tugas utama wanita adalah untuk mengasuh anak dan menjaga rumah. Budaya perkawinan Korea sangat menghormati kesetiaan. Para janda, walaupun jika suami mereka mati muda, tidak diizinkan menikah lagi dan harus mengabdikan hidupnya untuk melayani orang tua dari suaminya. Begitu juga yang terjadi pada seorang duda yang harus melayani orang tua dari istrinya walaupun istrinya tersebut mati muda (<a href="http://www.angelfire.com/gundam/sartohalim/sosial_budaya">www.angelfire.com/gundam/sartohalim/sosial_</a><a href="http://www.angelfire.com/gundam/sartohalim/sosial_budaya">budaya</a><a href="http://www.google.com/">)</a><a href="http://www.google.com/">.</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span lang="EN-AU"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Melalui kumpulan cerpen L</span><span lang="EN-AU">aut dan Kupu-kupu</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">, berbagai gambaran keadaan geografis juga dihamparkan di depan mata pembaca. Latar belakang pegunungan dan bukit sering ditampilkan dalam beberapa cerita. Sebagai contoh, disebuah kalimat penutup dari cerpen yang berjudul </span><span lang="EN-AU">Dua Generasi Teraniaya </span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">karya Ha Geun Chan, tersebutlah sebuah kalimat dengan tuturan “Bukit Yongmori yang menjulang di depannya menatap pemandangan ini diam-diam” (Geun Chan, halaman: 16). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Contoh yang lain yang dapat dilihat sebagai latar cerita adalah pemunculan nama Bukit Jirongsan. Hal itu terdapat pada cerita yang berjudul </span><span lang="EN-AU">Bung Kim di Kampung Kami</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"> karya Lee Moon Goo. Terlihat dalam petikan kalimatnya, “Aku mau mandi di sini karena tak ada orang lain&#8230;, waktu aku kerja dulu ketika naik gunung sering mandi seperti itu &#8230;.Sambil mengatakan itu, dia memandang Bukit Jirongsan” (Moon Goo, halaman: 74). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Kemampuan para penulis cerpen dalam memunculkan latar pemandangan alam menjadikan cerita-cerita yang ada terasa lebih hidup. Di samping itu, pemunculan-pemunculan nama tempat yang ada telah memampukan saya memiliki imajinasi tersendiri. </span></span></p>
<p class="Quotations" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 3pt 14.15pt 0;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Hampir 70% daerah di Korea merupakan pegunungan, perbukitan , dan dataran tinggi. Dataran tinggi yang terkenal adalah Gaemagowon yang disebut “Roof of Korea” yang terletak di daerah sudut barat laut Korea . Pegunungan yang agak rendah dapat ditemukan di daerah selatan sedangkan daerah pegunungan yang lebih tinggi terdapat di daerah timur dan utara. Dataran rendah dan perairan sungai kebanyakan terletak di daerah barat dan selatan. </span></span><span lang="EN-AU">Pegunungan-pegunungan tinggi terletak sepanjang jalur pegunungan Taebaek yang terbentang dari utara menuju pantai timur Korea . Beberapa gunung tinggi di jalur pegunungan Taebaek antara lain Nangnimsan (2.014 m), Geumgangsan (1.638 m), Seoraksan (1.708 m), dan Taebaeksan (1.567 m). Ada juga jalur pegunungan Sobaek yang didalamnya terdapat gunung Jirisan (1.915 m) (<a href="http://www.angelfire.com/gundam/sartohalim/sosial_budaya">www.angelfire.com/gundam/sartohalim/sosial_</a><a href="http://www.angelfire.com/gundam/sartohalim/sosial_budaya">budaya</a><a href="http://www.angelfire.com/gundam/sartohalim/sosial_budaya">)</a><a href="http://www.angelfire.com/gundam/sartohalim/sosial_budaya">.</a><span class="Quotation"></span></span></p>
<p class="Quotations" style="text-align:center;line-height:150%;margin:0 3pt 14.15pt 0;" align="center"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">***</span></span></p>
<p class="Quotations" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 3pt 14.15pt 0;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Salah satu bentuk hubungan sosial dalam masyarakat Korea saya dapati dalam cerita </span><span lang="EN-AU">Sungai Dalam Mengalir Jauh</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"> karya Kim Yeong Hyeon. Dalam cerita tersebut, tampak hubungan antara kakak-adik yang sangat erat. Giho menaruh hormat yang dalam kepada kakaknya, Man Gi. Meskipun Man Gi sakit paru-paru dan mengalami pergumulan yang mempengaruhi keadaan fisik dan psikisnya, tetapi tampak terasa bahwa dalam alur cerita yang disajikan oleh penulis, si adik menaruh rasa hormat dan sayang pada sang kakak. “Di Korea, tampaknya penghargaan dan penghormatan pada mereka yang lebih tua atau ada di posisi yang lebih tinggi (misalkan kakak kelas, dosen atau profesor) menjadi satu tatakrama yang cukup penting”. Demikianlah dituturkan oleh Annyong Haseyo dalam </span><span lang="EN-AU">hafizsan.multiply.com. </span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">Lebih lanjut Annyong Haseyo memberikan sebuah contoh bagaimana seorang yang lebih muda menghormati yang lebih tua. Misalkan pada saat jamuan makan yang biasanya diikuti kegiatan minum minuman keras dari Korea yang dikenal sebagai </span></span><span class="Quotation"><span lang="EN-AU">soju</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">. Maka jika tiba saatnya saling menuang </span></span><span class="Quotation"><span lang="EN-AU">soju</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">, bagaimana ‘posisi’ (maksudnya penghargaan dalam hal usia atau senioritas), ini akan terlihat dari tatacara bagaimana menuangkan dan menerima soju. Jika orang yang menuangkan soju adalah lebih senior maka dia akan menuangkan soju dengan memegangnya dengan satu tangan. Sedangkan si penerima yang lebih muda atau junior menerimanya dengan memegang gelas dengan kedua tangannya. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, yang menuangkan adalah yang lebih muda atau junior, maka dia menuang soju dengan memegang botol dengan kedua tangannya. Si penerima biasanya akan menerima dengan memegang gelas dengan satu tangan. Hal ini mungkin terlihat remeh, tetapi ini merupakan salah satu cara penghargaan dan penghormatan, sehingga jika hal ini tidak dilakukan, bisa-bisa orang yang ‘salah’ melakukan tatacara seperti ini dianggap sebagai orang yang kasar dan tidak tahu aturan. </span></span></p>
<p class="Quotations" style="text-align:center;line-height:150%;margin:0 3pt 14.15pt 0;" align="center"><span lang="EN-AU"> </span></p>
<p class="Quotations" style="text-align:center;line-height:150%;margin:0 3pt 14.15pt 0;" align="center"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">***<span> </span></span></span></p>
<p class="Quotations" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 3pt 14.15pt 0;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Satu hal lagi yang menarik dalam kumpulan cerpen ini adalah munculnya sebuah cerita dengan latar belakang kehidupan para buruh. Seperti dalam cerita yang berjudul </span><span lang="EN-AU">Dinihari ke Garis Depan</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">, karya Bang Hyun Suk. Latar belakang kehidupan buruh menjadi sebuah warna yang cukup pekat untuk dihayati karena di dalamnya dituangkan berbagai macam pergumulan para buruh dalam memperjuangkan hak-hak mereka. <span> </span><span> </span>Perihal demonstrasi yang dilakukan oleh para buruh itu dapat dilihat pula sampai di tahun 2000-an. Seperti salah sebuah contoh demonstrasi buruh yang dipaparkan dalam media pada tahun 2002. “Ribuan buruh Korea Selatan telah melakukan pemogokan, sekalipun pemerintah memperingatkan agar tidak melakukan protes tenaga kerja yang akan mengganggu pertandingan final sepakbola memperebutkan piala dunia. Serikat tenaga kerja Korea mengatakan, buruh logam dan kimia adalah yang pertama melakukan pemogokan hari ini, dan pekerja rumahsakit dan pengemudi taksi diduga akan menyusul dalam beberapa hari ini. Seoul telah berjanji akan mengambil tindakan keras kalau serikat tenaga kerja melancarkan pemboikotan yang mengganggu sebelum dan pada saat pertandingan Piala Dunia, dimana Korea Selatan dan Jepang bersama-sama menjadi tuan rumah mulai tanggal 31 Mei. Serikat tenaga kerja itu menuntut kenaikan gaji, jam kerja 40 jam seminggu, dan menghentikan rencana penswastaan sektor pemerintah” (</span><span lang="EN-AU">www.voanews.com/indonesian/archive/2002-05/a-2002-05-22-7-1.cfm &#8211; 40k &#8211; ).</span></span></p>
<p class="Quotations" style="text-align:center;line-height:150%;margin:0 3pt 14.15pt 0;" align="center"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">***</span></span></p>
<p class="Quotations" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 3pt 14.15pt 0;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Membaca beberapa cerpen yang tersusun di bagian belakang, saya menangkap sebuah latar yang modern dari kehidupan masyarakat Korea. Seperti tampak pada </span><span lang="EN-AU">Kisah Singkat tentang Pekarangan</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">, karya Shin Kyong Yuk dan beberapa cerita yang lain seperti </span><span lang="EN-AU">Pewarisan </span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">karya Eun Hee Kyung, </span><span lang="EN-AU">Laut dan Kupu-kupu </span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">karya Kim In Suk, </span><span lang="EN-AU">Betulkah? Saya Jerapah </span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">karya Park Min Kyu, dan </span><span lang="EN-AU">Menyeberangi Perbatasan</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"> karya Jeon Sung Tae. <span> </span><span> </span>Cerita-cerita yang tersebut dalam paragraf di atas, bagi saya lebih mudah untuk dicerna dan dipahami. Rasanya, nuansa seperti apartemen yang terdapat di cerita </span><span lang="EN-AU">Kisah Singkat tentang Pekarangan </span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">lebih mudah untuk saya bayangkan. Demikian pula dengan nuansa Rumah Sakit bertingkat dan pemeriksaan medis yang ada di cerita </span><span lang="EN-AU">Pewarisan</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">.</span></span></p>
<p class="Quotations" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 3pt 14.15pt 0;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Pada cerita </span><span lang="EN-AU">Laut dan Kupu-kupu</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"> di sana terdapat penyebutan beberapa makanan yang termasuk dalam kategori f</span><span lang="EN-AU">ast food</span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">. “Waktu keluar dari toko, senja telah turun. Nampak, papan iklan yang kuning di sekitarnya. Mc Donald. Saya bertanya kepada Chae Geum apa dia suka hamburge, karena saya belum biasa dengan makanan setempat” (In Suk, halaman: 287). Dari contoh tersebut, terlihat bahwa cerpen tersebut telah memasukkan unsur-unsur pengaruh dari globalisasi. Tentunya, Korea saat ini telah mengalami perkembangan yang cukup berarti di era globalisasi.</span></span></p>
<p class="Quotations" style="text-align:center;line-height:150%;margin:0 3pt 14.15pt 0;" align="center"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Sebagai penutup dari esai yang saya buat ini, kembali saya ingin membuat sebuah pengakuan: pada awalnya saya tidak menyangka bisa membuat sebuah tulisan tentang Budaya Korea. Akan tetapi, munculnya larik demi larik yang tersusun dalam paragraf-paragraf di atas telah membuktikan bahwa kumpulan cerpen Korea </span><span lang="EN-AU">Laut dan Kupu-kupu </span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">telah menjadi sebuah jendela.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Hal tersebut persis seperti yang dikatakan oleh Maman S. Mahayana lewat kata pengantarnya, “Antologi cerpen ini jadinya seperti salah satu jendela dari sebuah rumah yang bernama kesusastraan dunia. Dan ketika kita berdiri di depan jendela itu, panorama negeri ginseng terhampar di depan mata”<span> </span>(Mahayana, halaman: ix-x).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Bagi saya pribadi, selain sebagai jendela , buku </span><span lang="EN-AU">Laut dan Kupu-kupu </span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">telah menjadi pemantik hasrat saya untuk melihat lebih jauh. Oleh karena itulah saya juga membuka jendela-jendela yang lain untuk memperlengkapi jendela utama yang ada di hadapan saya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU"><span> </span>Kumpulan cerpen Korea </span><span lang="EN-AU">Laut dan Kupu-kupu </span></span><span class="Quotation"><span style="font-style:normal;" lang="EN-AU">telah menjadi jembatan bagi saya untuk “berada di sana: Korea”. Maka tentulah tidak salah bila akhirnya saya menutup tulisan ini dengan sebuah harapan: saya ingin pergi ke sana.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span><span> </span><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span><br style="page-break-before:always;" /> <strong>BIODATA</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><!--[if gte vml 1]&gt;                      &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/Antlks/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.jpg" alt="" width="144" height="183" align="left" /><!--[endif]--><span lang="EN-AU"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="EN-AU"><span> </span></span></strong><span lang="EN-AU">Nama<span> </span>: Hezti Insriani </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Tempat, Tanggal Lahir<span> </span>: Jepara, 7 September 1982</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Alamat<span> </span>: Jl. Anjasmoro II, No.55 Semarang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span><span> </span>Jawa Tengah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Telepon<span> </span>: 081325462837</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Email<span> </span>: <a href="mailto:hinsriani@yahoo.com">hinsriani@yahoo.com</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Pendidikan<span> </span>: Sarjana Antropologi (2006) Fakultas <span> </span><span> </span><span> </span>Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada <span> </span><span> </span><span> </span>Yogyakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Pekerjaan<span> </span>: Guru mata pelajaran Sosiologi dan <span> </span><span> </span><span> </span><span> </span>Sejarah di SMA K Tri Tunggal <span> </span><span> </span><span> </span>Semarang (2006-sekarang)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Alamat Kantor<span> </span>: SMA K Tri Tunggal Semarang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span>Jl. Semarang Indah Blok F No.1 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span>Semarang 50144.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-AU"><span> </span>Tulisan<span> </span>: Geliat Barongsai Mengarungi Zaman: <span> </span><span> </span><span> </span>Ekspresi Identitas dan Pluralitas <span> </span><span> </span><span> </span>Budaya di Yogyakarta (Skripsi S-1), <span> </span><span> </span><span> </span>Ajar Sabar (Puisi, Lord&#8217;s Lighthouse <span> </span><span> </span>Ed. 3 November 2007-Devotion Book <span> </span><span> </span>for Senior High School), Jumpa Pelangi <span> </span><span> </span>(Puisi, Lord&#8217;s Lighthouse Ed. 5 Januari <span> </span><span> </span>2008-Devotion Book for Senior High <span> </span><span> </span><span> </span>School), Pesan Kebaikan (Puisi, Lord&#8217;s <span> </span><span> </span><span> </span>Lighthouse Ed. 7 Maret 2008-Devotion <span> </span><span> </span><span> </span>Book for Senior High School), Adakah <span> </span><span> </span>( Puisi, Lord&#8217;s Lighthouse Ed. 9 Mei <span> </span><span> </span><span> </span>2008-Devotion Book for Senior High <span> </span><span> </span>School).<br style="page-break-before:always;" /> </span><!--[if gte vml 1]&gt;            &lt;![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="26" height="25"></td>
<td width="3"></td>
<td width="1"></td>
<td width="322"></td>
<td width="4"></td>
<td width="89"></td>
</tr>
<tr>
<td height="82"></td>
<td style="border:.75pt solid black;background:white none repeat scroll 0 0;vertical-align:top;" colspan="3" width="326" height="82" bgcolor="white"><!--[endif]--><!--[if !mso]--><span style="position:absolute;z-index:251657216;"> </span></p>
<div class="shape" style="padding:.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">LOMBA      PENULISAN ESAI: MENGENAL </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">MASYARAKAT      DAN BUDAYA KOREA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">MELALUI      CERITA PENDEK</span></strong></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td><!--[endif]--></p>
<div class="shape" style="padding:.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU"> </span></strong></p>
</div>
<p><!--[if !mso]--></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="border:.75pt solid black;background:white none repeat scroll 0 0;vertical-align:top;" colspan="3" width="326" height="82" bgcolor="white"><span style="position:absolute;z-index:251657216;"> </span><!--[endif]--><!--[if !mso &amp; !vml]--> <!--[endif]--><!--[if !vml]--></td>
</tr>
<tr>
<td height="110"></td>
</tr>
<tr>
<td height="129"></td>
<td colspan="2"></td>
<td style="border:.75pt solid black;background:white none repeat scroll 0 0;vertical-align:top;" colspan="3" width="415" height="129" bgcolor="white"><!--[endif]--><!--[if !mso]--><span style="position:absolute;z-index:251658240;"></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td><!--[endif]--></p>
<div class="shape" style="padding:.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">Kepada:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">Panitia      Lomba Penulisan Esai: Mengenal Masyarakat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU"><span> </span>dan Budaya Korea melalui Cerita Pendek.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">d/a. Program      Studi Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">Budaya      Universitas Indonesia,</span></strong><span lang="EN-AU"> <strong>Depok, 16424 </strong></span></p>
</div>
<p><!--[if !mso]--></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span><!--[endif]--><!--[if !mso &amp; !vml]--> <!--[endif]--><!--[if !vml]--></td>
</tr>
<tr>
<td height="83"></td>
</tr>
<tr>
<td height="115"></td>
<td></td>
<td style="border:.75pt solid black;background:white none repeat scroll 0 0;vertical-align:top;" colspan="3" width="327" height="115" bgcolor="white"><!--[endif]--><!--[if !mso]--><span style="position:absolute;z-index:251659264;"></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td><!--[endif]--></p>
<div class="shape" style="padding:.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">Hezti      Insriani</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">d/a. SMA      K Tri Tunggal Semarang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">Jl.      Semarang Indah Blok F No.1</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-AU">Semarang,      50144</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN-AU"> </span></p>
</div>
<p><!--[if !mso]--></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span><!--[endif]--><!--[if !mso &amp; !vml]--> <!--[endif]--><!--[if !vml]--></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hezti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hezti.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hezti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hezti.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hezti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hezti.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hezti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hezti.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hezti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hezti.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hezti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hezti.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hezti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hezti.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hezti.wordpress.com&amp;blog=3748109&amp;post=5&amp;subd=hezti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hezti.wordpress.com/2009/04/17/tentang-korea/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2678b7dd44c427fcc8602bd40d62bdb0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hezti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/Antlks/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Puteri Cina</title>
		<link>http://hezti.wordpress.com/2008/05/17/puteri-cina/</link>
		<comments>http://hezti.wordpress.com/2008/05/17/puteri-cina/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 May 2008 04:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hezti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hezti.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Buat temen-temen yang suka dengan budaya Tionghoa di Indonesia, ada baiknya kalau membaca sebuah novel karangan Sindhunata dengan judul : Putri Cina. Di Semarang, bakal ada pertunjukan kethoprak yang dimainkan oleh Marwoto, Yati pesek, dkk yang mengangkat cerita dari novel tersebut. Kabarnya pertunjukan diadakan pada tanggal 20 mei 2008 jam 18.00 di Klenteng Tay kak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hezti.wordpress.com&amp;blog=3748109&amp;post=4&amp;subd=hezti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat temen-temen yang suka dengan budaya Tionghoa di Indonesia, ada baiknya kalau membaca sebuah novel karangan Sindhunata dengan judul : Putri Cina.</p>
<p>Di Semarang, bakal ada pertunjukan kethoprak yang dimainkan oleh Marwoto, Yati pesek, dkk yang mengangkat cerita dari novel tersebut. Kabarnya pertunjukan diadakan pada tanggal 20 mei 2008 jam 18.00 di Klenteng Tay kak sie.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hezti.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hezti.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hezti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hezti.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hezti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hezti.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hezti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hezti.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hezti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hezti.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hezti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hezti.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hezti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hezti.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hezti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hezti.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hezti.wordpress.com&amp;blog=3748109&amp;post=4&amp;subd=hezti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hezti.wordpress.com/2008/05/17/puteri-cina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2678b7dd44c427fcc8602bd40d62bdb0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hezti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Site antropologi</title>
		<link>http://hezti.wordpress.com/2008/05/17/site-antropologi/</link>
		<comments>http://hezti.wordpress.com/2008/05/17/site-antropologi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 May 2008 04:49:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hezti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hezti.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Buat temen-temen yang pengen nyari informasi tentang jurusan antropologi budaya UGM, buka aja di http://antropologi.fib.ugm.ac.id/<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hezti.wordpress.com&amp;blog=3748109&amp;post=3&amp;subd=hezti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat temen-temen yang pengen nyari informasi tentang jurusan antropologi budaya UGM,</p>
<p>buka aja di <a href="http://antropologi.fib.ugm.ac.id/">http://antropologi.fib.ugm.ac.id/</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hezti.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hezti.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hezti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hezti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hezti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hezti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hezti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hezti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hezti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hezti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hezti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hezti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hezti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hezti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hezti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hezti.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hezti.wordpress.com&amp;blog=3748109&amp;post=3&amp;subd=hezti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hezti.wordpress.com/2008/05/17/site-antropologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2678b7dd44c427fcc8602bd40d62bdb0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hezti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://hezti.wordpress.com/2008/05/17/hello-world/</link>
		<comments>http://hezti.wordpress.com/2008/05/17/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 May 2008 04:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hezti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hezti.wordpress.com&amp;blog=3748109&amp;post=1&amp;subd=hezti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hezti.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hezti.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hezti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hezti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hezti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hezti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hezti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hezti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hezti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hezti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hezti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hezti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hezti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hezti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hezti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hezti.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hezti.wordpress.com&amp;blog=3748109&amp;post=1&amp;subd=hezti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hezti.wordpress.com/2008/05/17/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2678b7dd44c427fcc8602bd40d62bdb0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hezti</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
